Thursday, January 19, 2006

-015. RaSa & prAsAngkA

"Perempuan kalau ngambil keputusan biasanya 99% pake perasaan sisanya baru pake akal, kebalikan dengan laki-laki"
atau...
"coba liat kalau perempuan mengeluarkan pendapatnya sebagian besar pasti diawali dengan "saya rasa", kalau laki-laki biasanya dengan tegas bilang "saya fikir"."

kapannya terakhir saya dengar kalimat semacam itu? tapi cukup sering waktu itu. Dan setiap kali mendengar kalimat itu kesal sekali rasanya, hari gini kok masih gender aja, gerutu saya waktu itu.
Tapi ketika kemarin saya baca komentar seorang ”pesohor” perempuan tentang sebuah buku, saya jadi teringat kalimat diatas dan mulai merenungi kembali, apa iya semua perempuan selalu mengedepankan perasaannya? Lalu saya mencoba mengulang setiap kalimat diatas, yach mungkin ada benarnya, sebagian besar berarti tidak semuanya, dan pasti ada alasan orang untuk melakukan sesuatu baik itu berdasarkan perasaan atau rasionya. Kalimat Ali bin Abi Thalib yang pernah saya baca mungkin ingin menafsirkan hal yang sama (Perempuan sanggup menyimpan rasa cintanya selama 40 tahun, tetapi....).
Sebuah pengakuan memang harus saya buat untuk diri sendiri paling tidak. Saya juga sering mengedepankan perasaan, tapi itu semua kan dalam kondisi tertentu asal tidak menganggu dan merugikan orang kenapa tidak? sah-sah aja khan?
Fikiran saya tiba-tiba melayang ketiga teman saya, Ucil, Tante dan Moz5 (preman pulogadung). Saya tersenyum sendiri, merasa bodoh tiba-tiba, pada kenyataannya kami memang terlalu dan sangat menjujung perasaan untuk sebuah hal yang disebut cinta. Semua ingatan saya mulai merekam kejadian-kajadian yang menyebabkan mereka atau bahkan saya bisa berubah 180 derajat dalam satu waktu, atau melakukan hal-hal bodoh yang kalau orang lain lakukan biasanya selalu saya tertawakan dan cemooh. Iya, hanya karena sebuah prasangka dengan mengunakan perasaan, dan meyakinkan diri kalau perasaan benar, kerapkali malah sering membuat hati terluka (taela kayak lagunya betharia sonata aja :D)
Semua awalnya memang dari prasangka, tapi apa salah kalau seseorang berprasangka? selama prasangka itu baik kan ngak masalah. Tapi kalau prasangka itu berubah jadi sebuah harapan yang akhirnya berakar kuat dan menyakini segala sangka kita adalah benar, yach mungkin obsesi tepatnya kali? Itu mungin yang salah.
Sejenak, dua jenak, saya diam. Edan, dari mana datengnya nich suara, gosh, ini lagu saya kenal banget, salah satu ost dorama jepang, oh.... Tokyo Love Story... wah dorama jadul tapi real world banget... tentang kanchi, rika, satomi, mikami, nauko dan hmm... saya lupa namanya. Wah jadi inget lagi, mungkin ngak yach sama seperti yang saya maksud diatas. Rika begitu yakin kalo Kanchi juga cinta sama dia, meski dia juga tahu Kanchi punya cinta pertama yang susah dia lupain, Satomi. Biar dah ngasih cintanya sepenuh hati, apa mau dikata ternyata Kanchi lebih milih cinta pertamanya. Rika yang terlihat energic dan selalu ceria, juga manja, mengingatkan saya pada Ucil, hiks ternyata setelah dinget2 Cil ada juga yang mirip ma kisah loe.... he..he..he... Cil loe kadang ngerasa kesepian juga ngak kayak Rika yang dibalik sifat dan polahnya sebenernya dia kesepian???
Duh perempuan ternyata untuk nata perasaan tuch ngak segampang itu yach. Sejauh ini yang paling tob adalah cara moz5 dalam ngadepin setiap masalah meski ngak berarti bebas rasa sakit. Yach berserah pada Si empunya hidup duch Moz5 dalem banget sich kamu. Kerap datang dalam fikiran saya juga, kalo saya sebenarnya tidak benar-benar cinta dengan seseorang itu, tapi ini seperti satu obsesi saya, seperti Amaya (tokoh dalam novel KPGnya Ninit) yang ternyata ngak bener-bener pengen balik sama cowoknya, ternyata cuma ingin mendengarkan permohonan maaf cowoknya itu, saya fikir saya juga, mungkin ucil dan moz5 juga. Mungkin sekarang semua prasangka yang akan menimbulkan sakit dikurangi yach paling tidak kalau tidak bisa dihilangkan, Ternyata mengedepankan rasa itu salah banget, meski dalam kehidupan pribadi sekalipun, dan saya cukup kapok untuk terlibat terlalu jauh dengan perasaan-perasaan saya yang salah, akibat prasangka dini dan sepihak, cukup sudah seperti kata Glen, case closed, ”He’s not good enough for me.”.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home