-022. Ikhlas
Semenjak Si Mas Bud (Sepupu saya) suka telepon dan curhat, saya mulai belajar banyak hal. Belajar ikhlas yang jelas dan memang rada sulit untuk saya, seperti halnya belajar mengendalikan emosi kalau sedang bareng teteh, uni dan mpok. Setiap dia telepon saya, kata-kata akhir dari setiap curhatnya adalah, ya musti ikhlas kali dan kata sabar juga ngak kalah banyaknya mengakhiri setiap curhatannya.
Dari masalah cewek, ortu kita yang emang nyaris sama karakter kerasnya (sedarah sich), masalah kerjaan. dst.....
Well balik lagi ke masalah ikhlas, yang memang ngak gampang untuk saya. Berat tapi kalau dijalani dengan lilahita’ala rasanya memang beda. Meski ada sakit tapi di bagian lain ada satu rasa ketenangan yang nyaman banget. Seperti hari-hari belakangan ini, saya mengikhlaskan sesuatu yang saya yakin memang sudah seharusnya hak saya, tapi saya sadar kalau saya ngak berhak atas apapun, kecuali tanggung jawab & kewajiban yang harus saya penuhi kepada yang lebih kuasa yang punya hak atas seluruh manusia dan isi dunia ini.
Hari ini rasa sakitnya dah ngak berasa, beda sama kemaren, masih ada rasa sesak dan perih didada ini. Kemarin juga saya merasakan genangan air disudut mata saya setiap berbicara sesuatu yang menyesakkan saya, Belajar untuk Ikhlas memang ngak mudah tapi saya akan belajar untuk itu. Seperti saya selalu belajar untuk bersyukur dalam setiap hembusan nafas saya dan menyadari betapa Allah begitu sayang saya.
Dari masalah cewek, ortu kita yang emang nyaris sama karakter kerasnya (sedarah sich), masalah kerjaan. dst.....
Well balik lagi ke masalah ikhlas, yang memang ngak gampang untuk saya. Berat tapi kalau dijalani dengan lilahita’ala rasanya memang beda. Meski ada sakit tapi di bagian lain ada satu rasa ketenangan yang nyaman banget. Seperti hari-hari belakangan ini, saya mengikhlaskan sesuatu yang saya yakin memang sudah seharusnya hak saya, tapi saya sadar kalau saya ngak berhak atas apapun, kecuali tanggung jawab & kewajiban yang harus saya penuhi kepada yang lebih kuasa yang punya hak atas seluruh manusia dan isi dunia ini.
Hari ini rasa sakitnya dah ngak berasa, beda sama kemaren, masih ada rasa sesak dan perih didada ini. Kemarin juga saya merasakan genangan air disudut mata saya setiap berbicara sesuatu yang menyesakkan saya, Belajar untuk Ikhlas memang ngak mudah tapi saya akan belajar untuk itu. Seperti saya selalu belajar untuk bersyukur dalam setiap hembusan nafas saya dan menyadari betapa Allah begitu sayang saya.

0 Comments:
Post a Comment
<< Home