Wednesday, April 05, 2006

-026. PPS

Kalau diartikan bisa Post Power Syndrome (PPS, atau kalau di tempat saya bekerja bisa berarti (Permohonan Pensiun Sukarela).
Awal tahun kemarin, PPS sempat heboh di tempat saya bekerja, ketika kebijakan tersebut dikeluarkan, sebagian besar orang di divisi saya mulai menghitung cost & benefitnya, dan kalau di hitung2 entah karena alasan keuntungan atau karena alasan akan masuknya prohire yang nota bene mereka ragukan capabilitynya untuk memimpin. Hasilnya banyak yang mengajukan PPS namun karena keterbatasan dana & mungkin, (menurut sebagian teman saya, karena kebodohan manajemen. pls note. itu benar2 kalimat teman saya.), hanya sebagian kecil saja yang disetujui.
Jadi selamat untuk yang disetujui dan selamat juga untuk yang tidak:P. Post Power syndrome, gejala yang saya kira sedang menghinggapi mantan atasan saya selama 2 tahun belakangan ini. Hm.. terima kasih untuk 2 tahun ini Pa' Gie, untuk semuanya :D dan Selamat Ulang Tahun semoga bapak selalu sehat dan tambah bijaksana. Tanpa terasa Bulan depan beliau memasuki masa pensiun, bukan pensiun karena PPS, tapi pensiun sebenarnya, karena umur sudah mencapai limit untuk mengabdi di perusahaan ini. Sejak beberapa bulan belakangan menjelang masa pensiun beliau, saya hanya bisa meminta maaf dalam hati atas perlakuan beberapa orang terhadap beliau dan dari saya sendiri untuk beliau.
Saya masih ingat betul 2 tahun yang lalu, beliau begitu kaku, tipe orang jaman dahulu sekali, namun saya acungi jempol untuk ketelitiannya, dan sadar akan daya ingat yang mulai berkurang, dia mencatat segala aktivitas yang sudah dan akan ia lakukan, harusnya saya mulai melakuakn hal yang sama, karena saya sekarang sering lupa, kalau tidak ingin disebut pelupa :P. Untuk soal pengalaman dan ilmu juga tidak usah diragukan bertahun tahun dia dicabang, tentu saja dia sangat mengerti bagaimana operasional banking seharusnya. Yang ngak akan saya pernah lupa dari beliau adalah, ketika saya sedang benar-benar bingung saat saya benar2 ingin pindah ke syariah tapi kondisi yang benar2 menyebalkan terbentang dihadapan saya, saya malu sebenarnya pa' saat itu, karena saking ngak tahannya saya nangis dihadapan bapak.
Oh ya balik lagi ke Post Power Syndrome tadi, Beliau yang dulunya ngak pernah main game dikantor, buka internet diluar jam kerja, dan sisannya selalu sibuk, kini sangat2 bertolak belakang sekali, kalau tidak baca koran, baca internet atau main game. Sedih bgt ngeliatnya, sering saya lirik dia sedang bete sendirian, seperti ngerasa ngak dihargai, padahal alasan saya untuk ngak pindah duduk, meski waktu itu sudah diminta atasan saya untuk pindah kedekat dia adalah beliau, tapi keadaan menguntungkan saya, tanpa harus beralasan, atasan baru itu meminta saya duduk ditempat lama saya, meski akhir saya pindah juga. Tingkahnya jadi seperti unsosialized gitu, meski ngak sepenuhnya tapi saya memang taunya dia terbiasa untuk dihormati, sementara kini beliau memang masih duduk ditempat yang lama tapi sk penempatan beliau tidak ada, sama saja mengusir dia secara halus, padahal apa salahnya menghargai dia dengan memberi sk penempatan walau tinggal beberpa bulan lagi. Saya ingat Indah yang di marahi dua kali karena memintanya bergabung di Tim, padahal selama 2 tahun ini beliau tidak pernah marah seperti itu kepada saya, kalau kesal pun dia cuma menarik nafas panjang, selanjutnya berjalan seperti biasa. Tapi semoga saja beliau tidak benar2 mengalami PPS.
Selamat menjalani masa pensiun Pa'... dan semoga penyakit yang biasanya dijangkiti para Bos besar tidak menghingapi bapak. :)

0 Comments:

Post a Comment

<< Home