-027. Bila Waktunya Tiba....
Percakapan di telephone setelah istirahat makan siang
He : Hi, lagi ngapain sibuk yach
ME : Hm.. biasa, gimana malam minggu nanti?
HE : Aku sebenarnya malas pergi ke acara2 resepsi kek gitu (menghela nafas...)
ME : karena...
HE : Ya males aja, bawaannya bete gitu, mana sekarang tambah garing lagi.
temen mu gimana jadi ngak dikenalin ke aku (saya merasa kalau dia menyeringai)
ME : Dia sich oke2 aja, nah kamunya....
HE : (mendengus keras) mang sudah waktunya aku nikah kali ya. Tapi cari yang bener2 serius ngak ada!
ME : Kebanyakan milih kali, banyakkan yang ngejar2 kamu Mas, tinggal pilih aja susah banget.
HE : Yach bukan yang kayak gitu lah Yan, kamu ini kalau ngomong enak bener.. :(
ME : He...he..he...
HE : Kenapa sich Yan, selalu aja putus ditengah jalan mulu :( ada yang salah sama aku kali yach
(mulai menyalahkan diri sendiri)
ME : Hah... kenapa? (pura2 budek) jadi gimana jadi nganterin yan undangan ngak? (pura2 ngak nyambung)
HE : Yach aku kayaknya ngak bisa.
ME : Kan... semuanya mang tergantung niat sich... :( Ya udah yan juga lagi males dateng,
ngenalinnya kalau gitu kapan-kapan aja yach atau kamu kesini maksi bareng gitu
He : Kan ngak jadi lagi, huh garing lagi dech kesempatan punya cewek ditunda dech... he..he..he...
puasa jadi tambah panjang aja nich.
Yan nanti malam kalau ngak kemaleman aku kerumahmu yach! nanya2 ini nich baru ada proyek baru, atau
kalau minggu atau senen kamu mo pergi yach?
ME : Ngak, terserah aja telpon dulu tapi yach....
”klik” telephone ditutup, percakapan selesai, tapi saya tahu pasti percakapan lanjutanya yang tanpa dibatasi oleh media yang bernama telephone akan berlangsung lama. Entahlah saya mulai bosan dengan keadaan ini jujur saja, setiap hari telephone minimal sekali, hingga teman2 saya nyaris tidak percaya kalau yang telephone itu sepupu saya yang sudah saya anggap kakak sendiri itu. Dari mulai yang nanya2 masalah accounting sampe konsultasi masalah pasangan hidup. (Hm... saya kan sama sekali ngak mahir dalam hal terakhir itu, bahkan saya sendiri sedang malas mambahasnya, malas sekali, tapi apa boleh buat selalu dan selalu keluhan itu yang datang dari mulut orang jangkung ini).
Waktu merupakan patokan yang sering dan tanpa sadar mungkin paling banyak digunakan oleh orang-orag disekeliling saya sebagai patokan, selain hal2 lain juga tentunya. Yang sering diukur dengan waktu biasanya adalah pencapaian prestasi seseorang, menurut saya itu sah2 saja, namun saya sangat keberatan ketika waktu dipakai sebagai ukuran dalam hal-hal pribadi, seperti ukuran usia yang kerap dipakai orang tua untuk membuat FAQ (kapan kamu mau menikah? misalnya). Tidak seharusnya waktu digunakan sebagai patokan untuk hal-hal pribadi seperti itu, yang sering terjadi disekeliling saya. Katakan saja, misalnya anak yang lahir lebih dulu harus menikah lebih dulu, hal tersebut samasekali tidak dapat dijadikan tolak ukur, karena seperti yang agama saya katakan, rizky, jodoh & umur adalah rahasia Tuhan, jadi kalau sudah waktunya pasti semuanya akan dipermudah, paling tidak itu yang saya percaya. Seperti sepupu saya yang mencoba mengumpulkan uang dan mencoba membuat usaha sendiri karena ingin cepat-cepat menikah, tapi justru pada tahun yang sama itu pula ternyata pacarnya justru menerima lamaran lelaki lain, jadi kalau memang belum saatnya, apapun caranya apa yang kita rencanakan hanya tinggal rencana, seperti kalimat yang sering dilontarkan orang ” Manusia Berencana, Tuhan yang menentukan”.
Belajar ikhlas dan pasrah tetapi terus berikhtiar bagi saya kini merupakan bentuk berserah yang paling baik saat ini mungkin kedepannya juga. Bila waktunya tiba maka semua akan berjalan dengan lancar & penuh makna :).
He : Hi, lagi ngapain sibuk yach
ME : Hm.. biasa, gimana malam minggu nanti?
HE : Aku sebenarnya malas pergi ke acara2 resepsi kek gitu (menghela nafas...)
ME : karena...
HE : Ya males aja, bawaannya bete gitu, mana sekarang tambah garing lagi.
temen mu gimana jadi ngak dikenalin ke aku (saya merasa kalau dia menyeringai)
ME : Dia sich oke2 aja, nah kamunya....
HE : (mendengus keras) mang sudah waktunya aku nikah kali ya. Tapi cari yang bener2 serius ngak ada!
ME : Kebanyakan milih kali, banyakkan yang ngejar2 kamu Mas, tinggal pilih aja susah banget.
HE : Yach bukan yang kayak gitu lah Yan, kamu ini kalau ngomong enak bener.. :(
ME : He...he..he...
HE : Kenapa sich Yan, selalu aja putus ditengah jalan mulu :( ada yang salah sama aku kali yach
(mulai menyalahkan diri sendiri)
ME : Hah... kenapa? (pura2 budek) jadi gimana jadi nganterin yan undangan ngak? (pura2 ngak nyambung)
HE : Yach aku kayaknya ngak bisa.
ME : Kan... semuanya mang tergantung niat sich... :( Ya udah yan juga lagi males dateng,
ngenalinnya kalau gitu kapan-kapan aja yach atau kamu kesini maksi bareng gitu
He : Kan ngak jadi lagi, huh garing lagi dech kesempatan punya cewek ditunda dech... he..he..he...
puasa jadi tambah panjang aja nich.
Yan nanti malam kalau ngak kemaleman aku kerumahmu yach! nanya2 ini nich baru ada proyek baru, atau
kalau minggu atau senen kamu mo pergi yach?
ME : Ngak, terserah aja telpon dulu tapi yach....
”klik” telephone ditutup, percakapan selesai, tapi saya tahu pasti percakapan lanjutanya yang tanpa dibatasi oleh media yang bernama telephone akan berlangsung lama. Entahlah saya mulai bosan dengan keadaan ini jujur saja, setiap hari telephone minimal sekali, hingga teman2 saya nyaris tidak percaya kalau yang telephone itu sepupu saya yang sudah saya anggap kakak sendiri itu. Dari mulai yang nanya2 masalah accounting sampe konsultasi masalah pasangan hidup. (Hm... saya kan sama sekali ngak mahir dalam hal terakhir itu, bahkan saya sendiri sedang malas mambahasnya, malas sekali, tapi apa boleh buat selalu dan selalu keluhan itu yang datang dari mulut orang jangkung ini).
Waktu merupakan patokan yang sering dan tanpa sadar mungkin paling banyak digunakan oleh orang-orag disekeliling saya sebagai patokan, selain hal2 lain juga tentunya. Yang sering diukur dengan waktu biasanya adalah pencapaian prestasi seseorang, menurut saya itu sah2 saja, namun saya sangat keberatan ketika waktu dipakai sebagai ukuran dalam hal-hal pribadi, seperti ukuran usia yang kerap dipakai orang tua untuk membuat FAQ (kapan kamu mau menikah? misalnya). Tidak seharusnya waktu digunakan sebagai patokan untuk hal-hal pribadi seperti itu, yang sering terjadi disekeliling saya. Katakan saja, misalnya anak yang lahir lebih dulu harus menikah lebih dulu, hal tersebut samasekali tidak dapat dijadikan tolak ukur, karena seperti yang agama saya katakan, rizky, jodoh & umur adalah rahasia Tuhan, jadi kalau sudah waktunya pasti semuanya akan dipermudah, paling tidak itu yang saya percaya. Seperti sepupu saya yang mencoba mengumpulkan uang dan mencoba membuat usaha sendiri karena ingin cepat-cepat menikah, tapi justru pada tahun yang sama itu pula ternyata pacarnya justru menerima lamaran lelaki lain, jadi kalau memang belum saatnya, apapun caranya apa yang kita rencanakan hanya tinggal rencana, seperti kalimat yang sering dilontarkan orang ” Manusia Berencana, Tuhan yang menentukan”.
Belajar ikhlas dan pasrah tetapi terus berikhtiar bagi saya kini merupakan bentuk berserah yang paling baik saat ini mungkin kedepannya juga. Bila waktunya tiba maka semua akan berjalan dengan lancar & penuh makna :).

0 Comments:
Post a Comment
<< Home