-064. Princes Wanna Be (beg)
Tanpa sadar sudah 10 menit Sandra mematung diantara rak mainan anak2, tangannya memegang kotak permainan monopoli, sedang matanya fokus ke satu anak yang sedang merengek minta dibelikan boneka barbie serial putri-putrian.
"Bo, plizz jadi mo dibeli ngak tuch monopolinya? kok malah bengong." Irina menepuk pelan pundak Sandra, dengan gemas. Kotak setrikaan, antena tv, mouse pad tampak sudah ada dalam keranjang belanjaan Irina.
"Hah.. oh, dah selesai Na? eh, gw cuma mo liat aja, kali aja ada games untuk tambahan ngajar." Sandra gelagapan.
"Liat apa sich San? Ada yang mo loe beli ngak?" Irina mencoba mengikuti arah pandang Sandra, sementara Sandra mengeleng dan menarik halus tangan Irina.
"Keknya ngak ada Na, dah yuk pulang aja, dah kesorean nich. Katanya ada janji." Kini giliran Sandra yang menepuk pundak Irina. Irina masih penasaran, apa sich yang Sandra perhatikan dari tadi.
"Bo, liat apa sich loe?" Sandra mengelengkan kepalanya, Irina trus menyenggol2kan badannya ke arah Sandra dengan muka penuh tanya, sampai Sandra menunjukkan muka sebal.
Irina menghentikan aksinya dan mencibir sebal. Sandra hanya diam, dan fikirannya mulai melancong ketempat lain. "Cinderella syndrome" gumamnya dalam hati. Antara gemas, sebal dan perasaan lainnya campur aduk. Memberikan cerita dongeng nan indah pada gadis-gadis kecil itu memang bukan hal yang salah, tapi kalau nanti malah mempengaruhi pola fikir mereka, menjadi pemimpi yang merasa kalau mereka adalah seorang putri yang suatu saat akan dijemput pangeran tampan nan perfect, dan hal itu terbawa hingga dewasa.
"Woi, ngak asik banget nich, mikirin apaan sich?" Kedua kalinya Irina menginterupsi fikiran Sandra yang sedang berdebat sendiri. Lagi-lagi Sandra hanya tersentak kaget sebentar, senyum dan menarik tangan Irina yang mendadak mogok.
"Ngak cuma ngeliat anak kecil tadi, semoga ngak ketularan "cinderella syndrome" aja." Sandra buka mulut juga akhirnya, tapi Irina justru mengernyit tidak mengerti. "Ya, kalau dipikir2 lama2, Zy, mungkin gw juga kali atw loe juga Na kena syndrome itu tuch, cinderella yach, ngerasa seperti princes wanna be gitu dech." Irina makin menambah kerutan didahinya tampak semakin bingung dia. "Tuh kan, makanya gw males ngomong, soalnya yang ada diotak gw suka ribet gitu dan malah kek yang udah2, lama banget gw harus jelasin atu2 ma lo, ih males banget dech."
"Maksud loe?" Muka Irina nampak kesal sekarang. "Ih sebel dech, huh mampir ke foodcort aja kali, loe harus jelasin sekarang."
"Na, plis dech bukannya loe dah janji ma bokap ngak pulang malem? lagi pula Non, gw dah janji ma nyokap di supermarket deket rumah, 1 jam an lagi." Sandra memohon dan memeluk bahu Irina. "Besok aja di kantor kita chat lagi oke?"
"Nanti malem aja, loe gw telpon ya bo." Seperti biasa, Irina penasaran dan terlihat jelas dari matanya yang membulat. Sandra hanya mengangguk pasrah. Sampai di depan pintu pusat perbelanjaan tersebut mereka berpisah.
Princes wanna be, ngak salah sich, itukan maunya hampir seluruh perempuan di dunia ini. Dicintai dengan tulus, dihargai dan disayang, di dan di di lainnya yang maunya perempuan dech. Tapi kalau princes wanna be nya hanya untuk seorang pangeran durjana gimana? Iya, kalo maunya menjadi permaisuri untuk seorang pangeran yang sebenernya ngak pantes disebut pangeran gimana? dan parahnya karena sudah mencap tuh pangeran adalah cintanya apa ngak kacau. Mimpi Zy untuk selalu ada di hati Diwang aja dah ngak bener, jelas2 Diwang sering bikin dia nangis. Sampai hari ini pun Zy masih membandingkan Fitrah yang sudah hampir 3 bulanan ini jalan bersamanya dengan Diwang. Mencela semua pria yang selalu ada kurangnya, tapi toch memang manusia kan ngak ada yang sempurna. Terlalu banyak nonton film berbau drama dan terbiasa dengan dongeng putri ternyata sama sekali ngak mendidik kalau ngak punya filter. Jadi siapa yang salah? Huh... Sandra mengerutu sendiri dan membenamkan kepalanya dibantal, sembari berdo'a semoga Irina tidak jadi menelphonenya malam ini.
"Bo, plizz jadi mo dibeli ngak tuch monopolinya? kok malah bengong." Irina menepuk pelan pundak Sandra, dengan gemas. Kotak setrikaan, antena tv, mouse pad tampak sudah ada dalam keranjang belanjaan Irina.
"Hah.. oh, dah selesai Na? eh, gw cuma mo liat aja, kali aja ada games untuk tambahan ngajar." Sandra gelagapan.
"Liat apa sich San? Ada yang mo loe beli ngak?" Irina mencoba mengikuti arah pandang Sandra, sementara Sandra mengeleng dan menarik halus tangan Irina.
"Keknya ngak ada Na, dah yuk pulang aja, dah kesorean nich. Katanya ada janji." Kini giliran Sandra yang menepuk pundak Irina. Irina masih penasaran, apa sich yang Sandra perhatikan dari tadi.
"Bo, liat apa sich loe?" Sandra mengelengkan kepalanya, Irina trus menyenggol2kan badannya ke arah Sandra dengan muka penuh tanya, sampai Sandra menunjukkan muka sebal.
Irina menghentikan aksinya dan mencibir sebal. Sandra hanya diam, dan fikirannya mulai melancong ketempat lain. "Cinderella syndrome" gumamnya dalam hati. Antara gemas, sebal dan perasaan lainnya campur aduk. Memberikan cerita dongeng nan indah pada gadis-gadis kecil itu memang bukan hal yang salah, tapi kalau nanti malah mempengaruhi pola fikir mereka, menjadi pemimpi yang merasa kalau mereka adalah seorang putri yang suatu saat akan dijemput pangeran tampan nan perfect, dan hal itu terbawa hingga dewasa.
"Woi, ngak asik banget nich, mikirin apaan sich?" Kedua kalinya Irina menginterupsi fikiran Sandra yang sedang berdebat sendiri. Lagi-lagi Sandra hanya tersentak kaget sebentar, senyum dan menarik tangan Irina yang mendadak mogok.
"Ngak cuma ngeliat anak kecil tadi, semoga ngak ketularan "cinderella syndrome" aja." Sandra buka mulut juga akhirnya, tapi Irina justru mengernyit tidak mengerti. "Ya, kalau dipikir2 lama2, Zy, mungkin gw juga kali atw loe juga Na kena syndrome itu tuch, cinderella yach, ngerasa seperti princes wanna be gitu dech." Irina makin menambah kerutan didahinya tampak semakin bingung dia. "Tuh kan, makanya gw males ngomong, soalnya yang ada diotak gw suka ribet gitu dan malah kek yang udah2, lama banget gw harus jelasin atu2 ma lo, ih males banget dech."
"Maksud loe?" Muka Irina nampak kesal sekarang. "Ih sebel dech, huh mampir ke foodcort aja kali, loe harus jelasin sekarang."
"Na, plis dech bukannya loe dah janji ma bokap ngak pulang malem? lagi pula Non, gw dah janji ma nyokap di supermarket deket rumah, 1 jam an lagi." Sandra memohon dan memeluk bahu Irina. "Besok aja di kantor kita chat lagi oke?"
"Nanti malem aja, loe gw telpon ya bo." Seperti biasa, Irina penasaran dan terlihat jelas dari matanya yang membulat. Sandra hanya mengangguk pasrah. Sampai di depan pintu pusat perbelanjaan tersebut mereka berpisah.
Princes wanna be, ngak salah sich, itukan maunya hampir seluruh perempuan di dunia ini. Dicintai dengan tulus, dihargai dan disayang, di dan di di lainnya yang maunya perempuan dech. Tapi kalau princes wanna be nya hanya untuk seorang pangeran durjana gimana? Iya, kalo maunya menjadi permaisuri untuk seorang pangeran yang sebenernya ngak pantes disebut pangeran gimana? dan parahnya karena sudah mencap tuh pangeran adalah cintanya apa ngak kacau. Mimpi Zy untuk selalu ada di hati Diwang aja dah ngak bener, jelas2 Diwang sering bikin dia nangis. Sampai hari ini pun Zy masih membandingkan Fitrah yang sudah hampir 3 bulanan ini jalan bersamanya dengan Diwang. Mencela semua pria yang selalu ada kurangnya, tapi toch memang manusia kan ngak ada yang sempurna. Terlalu banyak nonton film berbau drama dan terbiasa dengan dongeng putri ternyata sama sekali ngak mendidik kalau ngak punya filter. Jadi siapa yang salah? Huh... Sandra mengerutu sendiri dan membenamkan kepalanya dibantal, sembari berdo'a semoga Irina tidak jadi menelphonenya malam ini.

1 Comments:
sok tau loe..... :bleh:
Post a Comment
<< Home