-053. Pilihan & Takdir.
Kalimat yang dilontarkan oleh salah seorang teman saya dan mpok ini ternyata cukup mengelitik mpok ini. Bukan sekali ia mencoba mendiskusikan mengenai Takdir dengan saya. dan kalimat teman saya itu merupakan kalimat pembuka dari setiap pembicaraan kami mengenai takdir ini. Sementara saya sendiri juga sempat bertanya2, ketika salah seorang teman ngaji ibu saya datang kerumah dan curhat tentang usahannya menjadikan anaknya polisi, sementara sebagian besar teman ngaji mereka sepertinya mendiskreditkan usaha si ibu ini.
"Nasib orangkan siapa yang tau Bude, asalkan kita Usaha dengan sungguh2, berdo'a, masa iya Allah ngak akan menolong. Yang tau Takdir kita seperti apa kan Allah, tapi nasib meski dah ditentuin Allah juga bisa berubah kalau kita memang usaha terus ya Bude." Ibu saya hanya tersenyum mendengar celoteh ibu ini.
Sementara saya hanya senyum mohon diri setelah menaruh gelas berisi minuman dan sepiring gorengan hangat di meja.
Setau saya hidup ini ngak hanya sekedar nasib dan takdir, tapi hidup juga sebuah pilihan. Sadar atau tidak setiap hari kita melakukan pilihan-pilihan, untuk sampai ketempat kerja, ketika ditempat kerja, dan sebagainya. Setiap tindakan yang kita ambil bagi saya adalah sebuah pilihan, dengan resiko/konsekuensi yang harus kita jalani atas pilihan tersebut selanjutnya. Ada harga dari setiap pilihan yang kita ambil, ada resiko, ada tanggung jawab dan biasanya setelah pilihan pertama, maka ada hal2 yang harus kita pilih untuk selanjutnya.
Pilihan dan Takdir adalah sesuatu yang jelas berbeda, bahkan nasib pun bagi saya bukan takdir. Bagi saya takdir adalah sesuatu yang telah Allah gariskan untuk setiap manusia semenjak ia lahir, rizky, mati dan jodoh. Tak ada yang tahu takdir saya kecuali Allah, bahkan jodoh sekalipun. Tapi dalam menjalankan semuanya hingga ke garis yang telah Allah tetapkan ada proses disana ada pilihan disana dan itu kita yang menentukan sendiri. Bahkan ketika saya dekat atau bahkan menikah pada akhirnya dengan seseorang, maka semuanya adalah pilihan yang saya buat dan semuanya atas bantuan-Nya.
Allah memberi saya otak untuk berfikir, hati untuk berempati dan bersimpati, mata untuk melihat, telinga untuk mendengar, jadi apa saya harus langsung pasrah saja pada takdir, sementara saya sendiri tidak tahu persis apa takdir saya. Saya percaya Allah selalu menyediakan pilihan beserta masalahnya dan juga pemecahannya.
Jadi begitu Mpok kalau menurut saya, itu memang hak dia untuk bilang kalau itu takdirnya dia, tapi siapa yang tau takdirnya dia kecuali Tuhan, yang terpenting adalah usaha semaksimal mungkin dan terus berdoa.
"Nasib orangkan siapa yang tau Bude, asalkan kita Usaha dengan sungguh2, berdo'a, masa iya Allah ngak akan menolong. Yang tau Takdir kita seperti apa kan Allah, tapi nasib meski dah ditentuin Allah juga bisa berubah kalau kita memang usaha terus ya Bude." Ibu saya hanya tersenyum mendengar celoteh ibu ini.
Sementara saya hanya senyum mohon diri setelah menaruh gelas berisi minuman dan sepiring gorengan hangat di meja.
Setau saya hidup ini ngak hanya sekedar nasib dan takdir, tapi hidup juga sebuah pilihan. Sadar atau tidak setiap hari kita melakukan pilihan-pilihan, untuk sampai ketempat kerja, ketika ditempat kerja, dan sebagainya. Setiap tindakan yang kita ambil bagi saya adalah sebuah pilihan, dengan resiko/konsekuensi yang harus kita jalani atas pilihan tersebut selanjutnya. Ada harga dari setiap pilihan yang kita ambil, ada resiko, ada tanggung jawab dan biasanya setelah pilihan pertama, maka ada hal2 yang harus kita pilih untuk selanjutnya.
Pilihan dan Takdir adalah sesuatu yang jelas berbeda, bahkan nasib pun bagi saya bukan takdir. Bagi saya takdir adalah sesuatu yang telah Allah gariskan untuk setiap manusia semenjak ia lahir, rizky, mati dan jodoh. Tak ada yang tahu takdir saya kecuali Allah, bahkan jodoh sekalipun. Tapi dalam menjalankan semuanya hingga ke garis yang telah Allah tetapkan ada proses disana ada pilihan disana dan itu kita yang menentukan sendiri. Bahkan ketika saya dekat atau bahkan menikah pada akhirnya dengan seseorang, maka semuanya adalah pilihan yang saya buat dan semuanya atas bantuan-Nya.
Allah memberi saya otak untuk berfikir, hati untuk berempati dan bersimpati, mata untuk melihat, telinga untuk mendengar, jadi apa saya harus langsung pasrah saja pada takdir, sementara saya sendiri tidak tahu persis apa takdir saya. Saya percaya Allah selalu menyediakan pilihan beserta masalahnya dan juga pemecahannya.
Jadi begitu Mpok kalau menurut saya, itu memang hak dia untuk bilang kalau itu takdirnya dia, tapi siapa yang tau takdirnya dia kecuali Tuhan, yang terpenting adalah usaha semaksimal mungkin dan terus berdoa.

0 Comments:
Post a Comment
<< Home