Tuesday, July 11, 2006

-049. oNe dAy is Enough

"Huh... finally!" Friska berdiri sembari merenggangkan ototnya. Duduk berjam2 bergumul dengan ribuan huruf dalam rangkaian data sungguh melelahkan, selain butuh pengorbanan waktu, ternyata pekerjaannya kali ini menghasilkan hal yang tidak pernah diduga sebelumnya. Setelah selesai melakukan peregangan, ia segera membereskan semua alat kerja termasuk komputer yang telah digumulinya lebih dari 3x24 jam.
Setelah melihat ke arah jam dinding, ia segera mengambil tumpukan kertas lain, kali ini sudut bibirnya menyunggingkan senyum, setelah beberapa hari ini pikirannya tersita karena pekerjaan jahanam itu. Friska amat membenci tugasnya kali ini, meski selesai tapi ia merasa pengorbanannya tidak sepadan sama sekali. Kali ini meski tetap tersungging senyum disudut bibirnya, tapi air mata juga meluncur dengan sendirinya. Sembari membaca barisan huruf yang sebagian besar lebih menyerupai cakar ayam, ia melap air yang terus mengalir seakan tak bisa di bendung, tiba2 saja emosinya mulai terganggu seperti beberapa hari yang lalu. Friska mulai megutuki dirinya sembari terus melap air matanya dan meletakkan kertas2 bergambar dgn sebagian besar tulisan cakar ayam. Anak2 itu kemarin benar2 menghilangkan sedih & letihnya walau hanya dalam hitungan tidak lebih dari 2 jam. Celoteh polos & tingkah mereka sama sekali tidak membuat Friska letih ataupun kesal.
Suara detik jarum jam membuatnya merasa sendiri, seperti hari2 belakangan ini, ia sama sekali tak menyangka ternyata hanya dalam satu hari, dalam satu bentakan semua berubah. Memorinya kembali ke beberapa hari yang lalu, saat "pms" mulai menyerang emosinya yang memang sedang bergejolak. Tanpa sadar ia membentak salah satu teman terbaik yang ia punya. Setelahnya hanya penyesalan dan air mata, tanpa bisa mengeluarkan ucapan maaf, parahnya ia sama sekali tidak menyadari kalau atasan mereka ada didekat mereka saat Friska membentak Irina. Friska merasa ia cukup tahu pribadi Irina, begitu sebaliknya. Irina merasa Friska telah mempermalukannya dengan sengaja di depan atasan mereka, sementara Friska merasa Irina tidak cukup adil memperlakukannya, hingga muncul curiga dan saling menjaga jarak.
Ternyata dalam satu hari bahkan dalam hitungan tidak lebih dari 30 menit semua berubah. Segala hal atas nama pertemanan yang telah mereka buat tidak cukup menahan rasa ego masing-masing.Friska tidak cukup kuat untuk menahan emosinya satu hari setelah kejadian, ia tahu ketika saat pms datang maka yang paling mudah baginya adalah marah dan menanggis, keberaniannya untuk bersikap netral surut melihat sikap Irina yang dingin, rasa penyesalan kembali menghampiri dan menghasilkan air mata yang lain, tak sanggup untuk mengucapkan kata2 maka ia mulai membuka coneksi chat yang beberapa hari terputus, ia meminta maaf diiringi air mata, sekali lagi ia memarahi diri sendiri, karena memalukan menanggis diantara orang yang sibuk lalau lalang didekatnya. Respon Irina adalah datar dan tetap dingin, Friska tahu ia pasti akan mendapat balasan dengan cara yang lain atas ketidaksegajaannya itu. Ia mulai mengambil nafas dalam2 membendung air matanya sekuat yang ia mampu, ia merasa ia memang pantas dimusuhi. Hari kedua setelahnya mulai mencoba untuk bersikap biasa, tampaknya berhasil meski aneh rasanya. Hari ketiga masalah baru datang, dan Friska tahu ini adalah hukuman baginya, ia memang pantas menerima semuanya, ia sudah menyakiti hati temannya, cukup ia yang terbebani. Hari keempat pagi-pagi Friska merasa sudah tidak sanggup menanggung semua bebannya, ia mulai menelpon Zy dan seketika tangisnya meledak, kurang dari sepuluh menit ia mencoba untuk menenangkan diri dan mengontrol emosinya. Diam sesaat, tapi ketika HP berbunyi dan nama Is keluar, Friska segera berlari ke kamar mandi tangisnya tumpah seketika, Is kebingungan di seberang, semua jadi serba salah. Friska merasa ia telah di khianati, ia merasa telah di buang, mungkin pertemananya memang sudah tidak artinya lagi bagi Irina. Harapannya akan seorang teman dekat mendadak terkoyak oleh rasa curiga pada Irina, Friska menduga Irina telah menceritakan ihwal ia marah terhadap Friska, tentang Friska yang labil dan emosional. Mendadak Friska merasa sakit yang tanpa ia sadari begitu dalam. Tangis Friska semakin dalam membayangkan mungkin ini yang memang Irina inginkan sebagai bentuk hukuman terhadap dirinya. Mungkin ini yang Irina harapkan, yaitu Friska merasa terbuang. Friska mulai menetralkan kembali dan mengembalikan kesadarannya. Kecewanya lebih dalam daripada penyesalannya, doanya kini satu suatu saat Irina bisa melupakan kejadian itu dan memaafkannya, dan smoga dirinya punya keberanian untuk meminta maaf, mengalah bukan berarti kalah....Is da Zy mulai dengan smsnya untuk menenangkan Friska. Tapi Friska hanya diam, kali ini ia hanya ingin berdiskusi dengan fikirannya. Friska sama sekali tidak menyangka kalau salah paham kali ini benar2 memakan energinya. Friska mulai mempertanyakan arti pertemanan mereka, mungkin ia memang bukan benar -benar teman mereka, mungkin ia memang kurang baik bagi mereka. Mendadak ada sesuatu yang terasa perih dihatinya, mengingat saat-saat ketika salah satu dari mereka ada yang sedang jatuh cinta atau patah hati, atau sedang memulai suatu hubungan. Ia mulai menelaah mungkin ia memang bukan bagian dari mereka, mungkin ia hanya pemanis yang bisa saja hilang rasanya dan harus siap untuk dibuang. Mungkin satu hari yang menyakitkan cukup untuk menghapus semua memory yang baik dan indah. Satu hari saja sudah cukup merubah pandangan seseorang yang dianggap sebagai teman baik. Satu hari saja cukup untuk mengubah sesuatu yang indah jadi mimpi buruk. Hanya satu hari saja ternyata begitu banyak artinya untuk hari berikutnya, selanjutnya dan seterusnya.
Friska menghapus linangan tipis dari sudut matanya, dengan senyum disudut bibirnya, ia mulai mengambil kertas yang tadi ia letakkan begitu saja. Kini tergiang dikupingnya suara anak2 kecil mengeja huruf dalam lafadz inggris yang kebalik-balik antara 'ei' dan 'ai'. Teriakan mereka ketika mencapai garis finish lebih dulu saat permainan. Bekerja dengan anak2 tidak pernah membuat Friska letih dan kesal. Ia selalu rindu akan teriakan dan celoteh lucu mereka.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home