Tuesday, September 12, 2006

-073. Princes Wanna Be (Cont)

”San, Ada telephone dari Irina!” Mama mengetuk pintu kamar Irina, berulang-ulang, memastikan kalau ia mendengar panggilannya.
”Ya, Ma sebentar.” Sandra menyahut dan bergegas bangkit dari tempat tidurnya yang nyaman. Hatinya meruntuk, penjelasannya akan memakan waktu lebih dari setengah jam pasti.
”San gimana, penjelasan yang loe janjiin.” Irina dengan tidak sabarnya langsung menyerbu Sandra yang baru saja memegang gagang telphone.
”Iya... gw tadi lagi eror aja lagi Na.” Sandra membetulkan letak duduknya setelah meraih remote di karpet dan mematikan televisi tanpa penonton.
”Ih ngak mungkin banget.” Irina gemas tak percaya.
”Na, loe kayak ngak kenal gw aja, kalo otak mellow gw mendadak kumat kan ada aja yang tau-tau kelintas diotak gw.” Sandra sebal karena jam ternyata sudah menunjukkan pukul 21.00, sementara Irina masih merajuk menagih cerita.
”Iya, ngak papa, gw tertatarik kok dengan hal yang terlintas diotak loe, ayo donk ngomong, jangan-jangan loe tadi keingetan Bagas yach?”Irina tetap memaksa. Sementara Sandra menarik nafas panjang menahan kesal, karena rasa kantuk sudah mulai menyerang.
”Ngak, eh mungkin, tau agh.” Sandra menjawab asal. ”Yang jelas Na, kok gw sekarang jadi rada ragu ma konsep the right person yach, karena kenyataannya nemuin the right person itu bagai mencari jarum dalam jerami.” Sandra menghembuskan nafas mengeluarkan segala isi pikirannya saat itu.
”Kok?” Irina bingung.
”Iya, nyatanya memang lebih mudah buat nemuin orang yang salah daripada orang yang tepat. Padahal kalau di cerita2 dongeng ala putri-putrian yang kita tau dari kecilkan, harusnya kan ada pangeran tampan yang baik dan mencintai kita sampai maut memisahkan, duh kok gw jadi dangdut gini sich, dah ah..” Sandra mendecak sebal setelah sadar dia mulai bicara ngak penting.
”Ngak kok, ayo dong lanjutin, gw lagi asik dengerin nich, jangan sepotong-sepotong gitu dong!” Irina tampak sangat bersemangat dari intonasi suaranya.
”Pokoknya konsep princess wanna be salah, kecuali kalau kita hidup dalam dunia dongeng. Sementara kita kan hidup dalam dunia nyata, dan sering kali apa yang kita harapkan jauh dari kenyataan syukur kalau terwujud dech, tapi kan ngak semuannya juga.” Sandra menghela nafas putus asa karena jarum jam terus bergerak sementara Irina masih bersemangat. ”Na, loe kemaleman gw dah ngantuk nich.”
”Yach, bentar lagi San, pasti masih ada lanjutannya kan.”
”Na, intinya mungkin gw aja yang lagi error, gw keingetan sama Bagas juga Jo. Gw juga jadi inget sama Zy dan Diwangnya. Na, besok sambung lagi yach.. dah ngantuk nich.” Sandra setengah memohon.
”Hmmm, oke dech, maaf ya San, gw kemaleman, abis tadi si Surya dateng, biasa lah.”
”Ngak apa2 Na, dagh have a lovely dream.”
“You too. Bye.”
Klik. Sandra menghembuskan nafas lega dan langsung kembali ke kamarnya setelah meletakkan gagang telephone.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home