Wednesday, April 26, 2006

-030. Nanny Mc Phee



Film yang bagus.. saya hanya bisa bilang bagus bangeddd..... yach memang beda bagusnya dengan the chronicle of Narnia atau the incredible atau.... film ini selain sanggup membuat saya tertawa terbahak2, juga membuat saya meneteskan air mata, atau memang saya yang cengeng :O. Film ini untuk semua umur dan Emma Thompson menulis ulang cerita ini berdasarkan novel Christianna Brand judulnya Nurse Matilda. Tag line film ini :"You'll Learn To Love Her. Warts And All". Anak-anak yang lucu dan nakal luar biasa membuat saya tertawa dan terharu. Tertawa melihat kenakalan mereka, terlebih lagi ketika Mr Brown berusaha untuk mendapat Istri agar aunt Adelaide tidak mencabut bantuan financialnnya untuk keluarga Brown, ketika Mrs. Quickly yang menyebalkan akhirnya menyerah atas kenakalan ke7 anak Brown itu. Dan terharu manakala Christy anak perempuan (anak ke 6 dari 7 bersaudara Brown) ingin diambil oleh Aunt Adelaide, sementara mereka ber7 tidak ingin dipisahkan, dan ketika mereka menahan untuk tidak marah ketika mainan Aggie (pemberian Almahrum ibu mereka) dirusak Mrs Quickly. Simon yang semula apatis menjadi lebih mengerti demi keluarganya, Mr. Brown yang belajar terbuka terhadap anak2nya, semuanya berkat pelajaran yang diberikan oleh Nanny McPhee. Ceritanya ringan dan cukup menghibur, Hm... jadi mau nonton lagi :P

Tuesday, April 11, 2006

-029. Schizoprenia

Setelah bertanya2 sekian lama akhirnya saya tahu juga apa penyakit temen satu kantor saya ya sebut aja Mba' Lina. Kalau kata Mba' Wi Schizophrenia. Saya sempat berfikir, mungkin saya salah dengar, tapi ternyata ngak. Kalau kata Mba' Wi karena kebanyakan baca novel, apa iya? saya menyela ngak semua orangkan? saya juga suka baca tapi... Mba' Ewi nyengir kalo baca jangan dihayati Nor. ngingetin aja sich saya nyengir, dia memang paling tidak suka disela kalau sedang bicara dan saya lupa. Mba' LIn yang baik, pendiam dan beda banget dari teman seangkatannya, ternyata mengidap penyakit aneh kalau Mba' Lin sendiri selalu bilang penyakit orang gila.
Saya bertanya2 kok bisa dia kena penyakit itu, dia baik, punya teman banyak, cukup cerdas, lalu salah dimana dan kenapa bisa kena. Saking saya ingin tahunya saya mencoba untuk browsing dan mencari tahu tentang penyakit itu.
Dan kalau menurut situs yang saya baca Schizophrenia ini asal katanya berasal dari bahasa Yunani yang secara harfiah di terjemahkan menjadi SChitos artinya terbelah, terpecah dan Phren artinya pikiran, istilah yang diperkenalkan oleh eugen Bleur ini th 1857-1939 menekankan pada pola perilaku yaitu tidak adanya integrasi otak yang mempengaruhi pikiran, perasaan & afeksi. Kalau menurut Prof. Dr.Dadang Hawari penyakit ini di Indonesia umumnya menyerang remaja. Tapi Mba' Lin kena penyakit ini pada usia yang sudah cukup dewasa, dan ada juga penelitian yang menyebutkan bahwa %tase terbesar memang menyerang usia 20-40th yaitu 65%. Seram... yach jujur saya jadi was2 blom lagi saya yang sering berubah mood :P, dan sebalnya teman2 saya bilang saya suka stres sendiri enak aja... :P tapi ada penelitian juga, masih menurut Prof tadi, kalau penderita penyakit ini biasanya lebih banyak mempengaruhi laki2 dibanding perempuan pada kelompok usia 16-25 tahun, sedang pada kelompok usia 25-30 tahun lebih banyak menyerang pada perempuan.
Penyakit ini merupakan penyakit otak yang sangup merusak dan menghancurkan emosi. Penyakit ini memiliki basi biologis seperti halnya penyakit kanker dan diabetes, tapi tidak tertutup kemungkinan juga untuk mereka yang tidak punya faktor genetik penyakit tersebut, karena faktor stress tinggi juga bisa menimbulkan penyakit ini. Artikel dari harian Pelita yang saya baca juga presentasinya adalah 1% dari penduduk di Indonesia. Yang menyedihkan lagi, dari penelitian salah satu makalah yang saya baca, dibanding ganguan abnormallitas psikis lainnya, penyakit ini relatifyang paling sedikit sembuh dan meninggal, (pantas mba' Lin sendiri selalu bilang kalau dia mengidap penyakit Jiwa- awalnya saya fikir dia bercanda). Kalau baca kajian Ilmiahnya cukup pusing bagi saya, karena memang bukan bidang saya, mengenai syaraf yang ada diotak kalau mau tahu lebih lanjut klik aja di
sini Mengerikan iya, bagi saya penyakit ini cukup mengerikan, merusak emosi melalui jaringan syaraf otak. Mengetahui Mba' Lin mengidap penyakit ini pun membuat saya jadi berhati-hati terhadapnya, saya takut kalau saya salah bicara atau memperlakuakn dia dia malah akan kambuh. karena teman saya pernah mendadak disuguhi wajah tersinggung beliau karena tertawa cekikikkan di dekatnya. Tapi sejauh yang saya tahu dan teman2 juga ngak pernah membicarakan kalau dia pernah ngamuk, jadi saya ambil kesimpulan sendiri kalau dia tidak terlalu parah. tapi cukup menyedihkan. Yang paling parah menurut saya adalah ketika dia membakar nyaris seluruh novelnya. karena dia berfikir kalau karena novelnya lah penyakitnya berawal, padahal dia sendiri yang pernah bercerita ke mba' Fit sahabatnya kalau salah satu anggota keluarganya ada yang mengidap penyakit tersebut.
Sepertinya segini dulu mungkin tulisan ini akan saya sambung dilain waktu.

Thursday, April 06, 2006

-027. Bila Waktunya Tiba....

Percakapan di telephone setelah istirahat makan siang
He : Hi, lagi ngapain sibuk yach
ME : Hm.. biasa, gimana malam minggu nanti?
HE : Aku sebenarnya malas pergi ke acara2 resepsi kek gitu (menghela nafas...)
ME : karena...
HE : Ya males aja, bawaannya bete gitu, mana sekarang tambah garing lagi.
temen mu gimana jadi ngak dikenalin ke aku (saya merasa kalau dia menyeringai)
ME : Dia sich oke2 aja, nah kamunya....
HE : (mendengus keras) mang sudah waktunya aku nikah kali ya. Tapi cari yang bener2 serius ngak ada!
ME : Kebanyakan milih kali, banyakkan yang ngejar2 kamu Mas, tinggal pilih aja susah banget.
HE : Yach bukan yang kayak gitu lah Yan, kamu ini kalau ngomong enak bener.. :(
ME : He...he..he...
HE : Kenapa sich Yan, selalu aja putus ditengah jalan mulu :( ada yang salah sama aku kali yach
(mulai menyalahkan diri sendiri)
ME : Hah... kenapa? (pura2 budek) jadi gimana jadi nganterin yan undangan ngak? (pura2 ngak nyambung)
HE : Yach aku kayaknya ngak bisa.
ME : Kan... semuanya mang tergantung niat sich... :( Ya udah yan juga lagi males dateng,
ngenalinnya kalau gitu kapan-kapan aja yach atau kamu kesini maksi bareng gitu
He : Kan ngak jadi lagi, huh garing lagi dech kesempatan punya cewek ditunda dech... he..he..he...
puasa jadi tambah panjang aja nich.
Yan nanti malam kalau ngak kemaleman aku kerumahmu yach! nanya2 ini nich baru ada proyek baru, atau
kalau minggu atau senen kamu mo pergi yach?
ME : Ngak, terserah aja telpon dulu tapi yach....


”klik” telephone ditutup, percakapan selesai, tapi saya tahu pasti percakapan lanjutanya yang tanpa dibatasi oleh media yang bernama telephone akan berlangsung lama. Entahlah saya mulai bosan dengan keadaan ini jujur saja, setiap hari telephone minimal sekali, hingga teman2 saya nyaris tidak percaya kalau yang telephone itu sepupu saya yang sudah saya anggap kakak sendiri itu. Dari mulai yang nanya2 masalah accounting sampe konsultasi masalah pasangan hidup. (Hm... saya kan sama sekali ngak mahir dalam hal terakhir itu, bahkan saya sendiri sedang malas mambahasnya, malas sekali, tapi apa boleh buat selalu dan selalu keluhan itu yang datang dari mulut orang jangkung ini).
Waktu merupakan patokan yang sering dan tanpa sadar mungkin paling banyak digunakan oleh orang-orag disekeliling saya sebagai patokan, selain hal2 lain juga tentunya. Yang sering diukur dengan waktu biasanya adalah pencapaian prestasi seseorang, menurut saya itu sah2 saja, namun saya sangat keberatan ketika waktu dipakai sebagai ukuran dalam hal-hal pribadi, seperti ukuran usia yang kerap dipakai orang tua untuk membuat FAQ (kapan kamu mau menikah? misalnya). Tidak seharusnya waktu digunakan sebagai patokan untuk hal-hal pribadi seperti itu, yang sering terjadi disekeliling saya. Katakan saja, misalnya anak yang lahir lebih dulu harus menikah lebih dulu, hal tersebut samasekali tidak dapat dijadikan tolak ukur, karena seperti yang agama saya katakan, rizky, jodoh & umur adalah rahasia Tuhan, jadi kalau sudah waktunya pasti semuanya akan dipermudah, paling tidak itu yang saya percaya. Seperti sepupu saya yang mencoba mengumpulkan uang dan mencoba membuat usaha sendiri karena ingin cepat-cepat menikah, tapi justru pada tahun yang sama itu pula ternyata pacarnya justru menerima lamaran lelaki lain, jadi kalau memang belum saatnya, apapun caranya apa yang kita rencanakan hanya tinggal rencana, seperti kalimat yang sering dilontarkan orang ” Manusia Berencana, Tuhan yang menentukan”.
Belajar ikhlas dan pasrah tetapi terus berikhtiar bagi saya kini merupakan bentuk berserah yang paling baik saat ini mungkin kedepannya juga. Bila waktunya tiba maka semua akan berjalan dengan lancar & penuh makna :).


Wednesday, April 05, 2006

-026. PPS

Kalau diartikan bisa Post Power Syndrome (PPS, atau kalau di tempat saya bekerja bisa berarti (Permohonan Pensiun Sukarela).
Awal tahun kemarin, PPS sempat heboh di tempat saya bekerja, ketika kebijakan tersebut dikeluarkan, sebagian besar orang di divisi saya mulai menghitung cost & benefitnya, dan kalau di hitung2 entah karena alasan keuntungan atau karena alasan akan masuknya prohire yang nota bene mereka ragukan capabilitynya untuk memimpin. Hasilnya banyak yang mengajukan PPS namun karena keterbatasan dana & mungkin, (menurut sebagian teman saya, karena kebodohan manajemen. pls note. itu benar2 kalimat teman saya.), hanya sebagian kecil saja yang disetujui.
Jadi selamat untuk yang disetujui dan selamat juga untuk yang tidak:P. Post Power syndrome, gejala yang saya kira sedang menghinggapi mantan atasan saya selama 2 tahun belakangan ini. Hm.. terima kasih untuk 2 tahun ini Pa' Gie, untuk semuanya :D dan Selamat Ulang Tahun semoga bapak selalu sehat dan tambah bijaksana. Tanpa terasa Bulan depan beliau memasuki masa pensiun, bukan pensiun karena PPS, tapi pensiun sebenarnya, karena umur sudah mencapai limit untuk mengabdi di perusahaan ini. Sejak beberapa bulan belakangan menjelang masa pensiun beliau, saya hanya bisa meminta maaf dalam hati atas perlakuan beberapa orang terhadap beliau dan dari saya sendiri untuk beliau.
Saya masih ingat betul 2 tahun yang lalu, beliau begitu kaku, tipe orang jaman dahulu sekali, namun saya acungi jempol untuk ketelitiannya, dan sadar akan daya ingat yang mulai berkurang, dia mencatat segala aktivitas yang sudah dan akan ia lakukan, harusnya saya mulai melakuakn hal yang sama, karena saya sekarang sering lupa, kalau tidak ingin disebut pelupa :P. Untuk soal pengalaman dan ilmu juga tidak usah diragukan bertahun tahun dia dicabang, tentu saja dia sangat mengerti bagaimana operasional banking seharusnya. Yang ngak akan saya pernah lupa dari beliau adalah, ketika saya sedang benar-benar bingung saat saya benar2 ingin pindah ke syariah tapi kondisi yang benar2 menyebalkan terbentang dihadapan saya, saya malu sebenarnya pa' saat itu, karena saking ngak tahannya saya nangis dihadapan bapak.
Oh ya balik lagi ke Post Power Syndrome tadi, Beliau yang dulunya ngak pernah main game dikantor, buka internet diluar jam kerja, dan sisannya selalu sibuk, kini sangat2 bertolak belakang sekali, kalau tidak baca koran, baca internet atau main game. Sedih bgt ngeliatnya, sering saya lirik dia sedang bete sendirian, seperti ngerasa ngak dihargai, padahal alasan saya untuk ngak pindah duduk, meski waktu itu sudah diminta atasan saya untuk pindah kedekat dia adalah beliau, tapi keadaan menguntungkan saya, tanpa harus beralasan, atasan baru itu meminta saya duduk ditempat lama saya, meski akhir saya pindah juga. Tingkahnya jadi seperti unsosialized gitu, meski ngak sepenuhnya tapi saya memang taunya dia terbiasa untuk dihormati, sementara kini beliau memang masih duduk ditempat yang lama tapi sk penempatan beliau tidak ada, sama saja mengusir dia secara halus, padahal apa salahnya menghargai dia dengan memberi sk penempatan walau tinggal beberpa bulan lagi. Saya ingat Indah yang di marahi dua kali karena memintanya bergabung di Tim, padahal selama 2 tahun ini beliau tidak pernah marah seperti itu kepada saya, kalau kesal pun dia cuma menarik nafas panjang, selanjutnya berjalan seperti biasa. Tapi semoga saja beliau tidak benar2 mengalami PPS.
Selamat menjalani masa pensiun Pa'... dan semoga penyakit yang biasanya dijangkiti para Bos besar tidak menghingapi bapak. :)