Sunday, November 05, 2006

-094. Para Aparat Menjengkelkan

”Mpok, sorry yach telat.... tapi sepenuhnya bukan salah gw loch, tadi gw ketahan di jembatan UI. Sial! mana panas gw naik ojek pula, bisa2nya tuch para polisi brengsek yang mo berangkat piknik atau baru pulang ngak ngijinin kendaraan untuk lewat, hanya karena mereka mau muter. Huuhuuh... sebel banged!” Mpok memperhatikan saya yang mencak2 karena merasa didzolimi lahir batin. Iya lahir batin, secara lahir saya kepanasan terpangang matahari selama lebih dari 15 menit, secara batin saya tersiksa karena seharusnya saya sudah sampai di halte UP karena janji dengan Mba’ teman kantor dan mpok.
Sementara Mpok Cuma menatap saya dan berkomentar pendek setelah memasang wajah heran juga ”Masa sich motor aja ngak dikasih lewat?” begitu komentar awalnya.
”Boro2 orang ada yang mau lewat gitu di pukul lampu depannya, dasar PM gila. Tau ngak kalo ada orang yang paling ngebetiin saat ini yach mereka itu, setelah pegawai kelurahan, gw juga sebel sama mereka. Orang2 yang harusnya mempermudah hidup jadi malah mempersulit. Brengsek pokoknya semuanya.” Saya menjawabnya dengan cerocosan tanpa henti (memang ini kelebihan saya yang kerap membuat teman2 saya terganga entah heran atau sebal karena ngak ngerti :P)
Mpok yang sudah sangat terbiasa hanya tersenyum geli, dan ini semakin membuat saya sebal dan panas, selain memang udara yang tidak pernah mendingin beberapa bulan ini. ”Wajarlah itukan daerah mereka Ncie.”
Mppfff, saya memonyongan bibir, ”Tapi ngak seharusnya, sering banged mereka semena-mena apalagi kalo mengenai jalan, huh, ngak presiden, ngak aparaturnya, sama2 hoby bikin macet.” saya memprotes, kali ini jauh lebih pelan nyaris tak terdengar. Karena sepertinya Mpok tidak tertarik membahas masalah tersebut lebih lanjut, selain itu seorang mahasiswa tepatnya es krim yang dibawa mahasiswa itu menarik perhatian, sampai2 ia rela sok akrab menanyakan lokasi si pedagang. Dasar...
Entahlah, meski saya tidak memukul rata sikap polah para aparatur, namun image mereka disaya juga sudah minus barangkali, sehingga hal yang dimata orang lain tidak terlalu bermasalah, tapi bagi saya sangat-sangat menggangu seperti peristiwa hari ini. Bahkan saya pernah dengan wajah judes dan jahat yang sudah mendapat pengakuan dari teman2 saya terutama kalau bad mood atau PMS datang, saya menegur keras seorang berseragam abri dengan ransel yang gede nauzubillah mindzalik, dan duduk seenaknya. Saya kesal selalin saya sendiri tergencet di pojok, seorang ibu juga kesulitan duduk selain karena tasnya, posisi duduk yang seenak jiwa juga sangat2 menganggu. Ketika dia melotot kearah saya dengan sebal, sebenarnya sempet jiper juga sich, tapi karena dah kepalang tanggung sekalian saja saya pelototin dia sembari ngeyel dan mencela.
Tempat yang paling saya hindari selain kantor polisi, adalah kelurahan. Oh iya saya sebal sekali ketika harus mengurus SKKB di kantor polisi, kalau saja bukan syarat, pasti saya akan memakai 1001 alasan, kalau kelurahan saya sebal dengan orang2 yang tanpa malu2 minta uang, padahal jelas2 dikaca tempat mereka melayani masyarakat tertulis ”GRATIS”.
Hmm..... belum lagi seminggu idul fitri saya sudah meluapkan kemarahan, hiks sebal. Tap bagaimanapun saya minta maaf kalau ada yang tersinggung dengan tulisan ini. Tapi saya tidak menyamaratakan mereka kok sungguh, hanya saja kenapa sebagian besar dari mereka seperti yang saya jabarkan diatas, mata duitan dan sewenang2.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home