-084. PINK, Dian Sastro & Jennifer Aniston
Sebenanya judul diatas, merupakan pecahan cerita sendiri-sendiri dan ngak ada korelasi khusus antara pink, dian sastro (DS) & jennifer aniston (JA).
Pink, tiba-tiba saja saya jadi teringat Uni yang kerap mencela saya karena kostum, tas dan sendal pink yang kerap saya pakai. Awalnya saya sering tertawa senang, karena bisa membuatnya kesal, dengan menunjukkan antusiasme saya terhadap benda2 pink kalau kebetulan kami sedang sama-sama hunting sesuatu di mall. Entah apa alasannya juga dia sepertinya menunjukkan antipati yang sangat dengan warna ini. Saya pernah tanya kenapa, tapi jawabannya hanya, ngak banget deh tuch warna, dan saya cuma bisa menap heran.
Uni menganggap saya sangat menyukai pink, karena seringnya saya memakai warna itu. Sebenarnya, barang-barang itu jadi secara tidak sengaja terkumpul dengan sendirinya menjadi satu koleksi tersendiri. Seperti halnya warna ungu yang tanpa sadar ketika saya kuliah jadi mendominasi warna kemeja, cardigan atau bahkan kaos saya. Iya semua memang ngak sengaja. Berawal dari banyaknya seragam pernikahan beberapa sepupu saya yang selalu berwarna pink, lalu baju yang sering ibu saya buat untuk saya atau bikin, dan tanpa sengaja akhirnya saya beli sendal pink, karena saat itu ada sale, dan warna sendal yang tersisa adalah putih dengan seret biru dan pink, saya pilih pink, mengingat saya jarang sekali punya warna biru. Saya juga pernah beli sendal pink akibat saya harus langsung ke pesta, sementara ibu saya lupa membawakan sendal saya, dan pilihan warna dan model yang tersedia dan masuk dengan baju pesta saya saat itu adalah pink, akhirnya bertambah lagi koleksi. Seperti halnya teman satu ruangan saya yang jadi seperti penggila warna coklat, karena banyaknya koleksi coklat, dari tas, baju, sepatu dan sendal bahkan aksesoris yang secara ngak sengaja, ia beli.
Sebenarnya bukan masalah juga kalau dibilang maniak dengan warna ini, toh jadi tambah girly kan klo pake warna ini. Tapi hari ini saya jadi ngerasa eneg yang Uni rasakan sama warna ini. Entahlah saya jadi geli sendiri, mendadak saya eneg, karena sebagian besar teman saya yang tidak memakai seragam hari ini memakai warna ini, dan warna ini jadi seperti membosankan, hmm sebenarnya sangat-sangat membosankan hari ini, atau karena memang saya yang lagi bosan entahlah. Hmm, pink....
Kalau tentang DS dan JA. Saya Cuma mau complain dikit ja kok, bener dikit. Hari ini saya memang ngak teraweh, kerena macet, saya datang terlambat dan sesuai perjanjian awal, saya ditinggal dan teraweh berdua dirumah dengan adik saya. Sebelum sholat dimulai, adik saya iseng memainkan remote TV melihat acara yang sedang tayang, dan ini pertama kali saya melihat DS jadi pembawa acara kuis di salah satu stasiun TV. Jujur, kalau menurut saya krang bagus, mungkin ia cantik dan bagus ketika memerankan suatu karakter di film maupun di sinetron, tapi ketika jadi host, hmm sepertinya ada yang aneh, kalau ngambil istilah ibu saya wagu, bukan mau sok tahu, tapi boleh donk saya ngasih pendapat. Mungkin karena masih baru mungkin dan saya lebih terbiasa melihat DS ini berakting sebagai bukan dirinya mungkin yach. Tapi kalau saya boleh ngasih komentar, sayang banget kuis yang seharusnya seru banget itu jadi seperti anyep dan kurang hidup. Ya, semoga aja semakin kesininya Mba DS bisa semakin belajar, sehingga acaranya jadi bener-bener seru dan ngak garing seperti yang saya tonton malam ini. Kritik bolehkan, artikulasinya kurang dan sepertinya kurang penjiwaan tuch mba DS.
Kalau tentang JA, saya cukup kesal ketika menonton the break up. Gendre di resensi yang saya baca baik di Internet, maupun majalah adalah komedi, dan komentarnya bagus banget, Tapi pas di tonton, cukup mengecewakan, belum setengah saja temen saya sudah bete nontonya. Oke lah secara cerita bagus, tapi saya protes, disana tertulis gendre comedy, tapi please ngak lucu sama sekali, datar dan garing. Saya protes saat itu juga apa karena JA pernah main di serial Sitkom yang sukses trus filmnya jadi di paksain bergendre comedy? Tapi kalau kalau komentar teman kerja saya yang duduknya berhadapan dengan saya beberapa kali bilang, Holliwood sepertinya kini kehilangan gigi. Filmnya kebanyakan garing dan aneh. Tapi tunggu ngak semua kok, kemaren saya nonton ada juga yang bagus, The Click. Adam Sandler masih bisa nunjukin keasnya dia, bukan secara cerita aja yang bagus kalau menurut saya, tapi juga situasi dan AS sendiri memang sudah lucu.
Sepertinya saya sudah harus tidur, meski besok libur, tapi saya harus membantu mama menyiapkan makan sahur nanti. Pfef, kantuk saya juga sudah mulai datang sepertinya, ok, good night, and have a lovely dream.
Pink, tiba-tiba saja saya jadi teringat Uni yang kerap mencela saya karena kostum, tas dan sendal pink yang kerap saya pakai. Awalnya saya sering tertawa senang, karena bisa membuatnya kesal, dengan menunjukkan antusiasme saya terhadap benda2 pink kalau kebetulan kami sedang sama-sama hunting sesuatu di mall. Entah apa alasannya juga dia sepertinya menunjukkan antipati yang sangat dengan warna ini. Saya pernah tanya kenapa, tapi jawabannya hanya, ngak banget deh tuch warna, dan saya cuma bisa menap heran.
Uni menganggap saya sangat menyukai pink, karena seringnya saya memakai warna itu. Sebenarnya, barang-barang itu jadi secara tidak sengaja terkumpul dengan sendirinya menjadi satu koleksi tersendiri. Seperti halnya warna ungu yang tanpa sadar ketika saya kuliah jadi mendominasi warna kemeja, cardigan atau bahkan kaos saya. Iya semua memang ngak sengaja. Berawal dari banyaknya seragam pernikahan beberapa sepupu saya yang selalu berwarna pink, lalu baju yang sering ibu saya buat untuk saya atau bikin, dan tanpa sengaja akhirnya saya beli sendal pink, karena saat itu ada sale, dan warna sendal yang tersisa adalah putih dengan seret biru dan pink, saya pilih pink, mengingat saya jarang sekali punya warna biru. Saya juga pernah beli sendal pink akibat saya harus langsung ke pesta, sementara ibu saya lupa membawakan sendal saya, dan pilihan warna dan model yang tersedia dan masuk dengan baju pesta saya saat itu adalah pink, akhirnya bertambah lagi koleksi. Seperti halnya teman satu ruangan saya yang jadi seperti penggila warna coklat, karena banyaknya koleksi coklat, dari tas, baju, sepatu dan sendal bahkan aksesoris yang secara ngak sengaja, ia beli.
Sebenarnya bukan masalah juga kalau dibilang maniak dengan warna ini, toh jadi tambah girly kan klo pake warna ini. Tapi hari ini saya jadi ngerasa eneg yang Uni rasakan sama warna ini. Entahlah saya jadi geli sendiri, mendadak saya eneg, karena sebagian besar teman saya yang tidak memakai seragam hari ini memakai warna ini, dan warna ini jadi seperti membosankan, hmm sebenarnya sangat-sangat membosankan hari ini, atau karena memang saya yang lagi bosan entahlah. Hmm, pink....
Kalau tentang DS dan JA. Saya Cuma mau complain dikit ja kok, bener dikit. Hari ini saya memang ngak teraweh, kerena macet, saya datang terlambat dan sesuai perjanjian awal, saya ditinggal dan teraweh berdua dirumah dengan adik saya. Sebelum sholat dimulai, adik saya iseng memainkan remote TV melihat acara yang sedang tayang, dan ini pertama kali saya melihat DS jadi pembawa acara kuis di salah satu stasiun TV. Jujur, kalau menurut saya krang bagus, mungkin ia cantik dan bagus ketika memerankan suatu karakter di film maupun di sinetron, tapi ketika jadi host, hmm sepertinya ada yang aneh, kalau ngambil istilah ibu saya wagu, bukan mau sok tahu, tapi boleh donk saya ngasih pendapat. Mungkin karena masih baru mungkin dan saya lebih terbiasa melihat DS ini berakting sebagai bukan dirinya mungkin yach. Tapi kalau saya boleh ngasih komentar, sayang banget kuis yang seharusnya seru banget itu jadi seperti anyep dan kurang hidup. Ya, semoga aja semakin kesininya Mba DS bisa semakin belajar, sehingga acaranya jadi bener-bener seru dan ngak garing seperti yang saya tonton malam ini. Kritik bolehkan, artikulasinya kurang dan sepertinya kurang penjiwaan tuch mba DS.
Kalau tentang JA, saya cukup kesal ketika menonton the break up. Gendre di resensi yang saya baca baik di Internet, maupun majalah adalah komedi, dan komentarnya bagus banget, Tapi pas di tonton, cukup mengecewakan, belum setengah saja temen saya sudah bete nontonya. Oke lah secara cerita bagus, tapi saya protes, disana tertulis gendre comedy, tapi please ngak lucu sama sekali, datar dan garing. Saya protes saat itu juga apa karena JA pernah main di serial Sitkom yang sukses trus filmnya jadi di paksain bergendre comedy? Tapi kalau kalau komentar teman kerja saya yang duduknya berhadapan dengan saya beberapa kali bilang, Holliwood sepertinya kini kehilangan gigi. Filmnya kebanyakan garing dan aneh. Tapi tunggu ngak semua kok, kemaren saya nonton ada juga yang bagus, The Click. Adam Sandler masih bisa nunjukin keasnya dia, bukan secara cerita aja yang bagus kalau menurut saya, tapi juga situasi dan AS sendiri memang sudah lucu.
Sepertinya saya sudah harus tidur, meski besok libur, tapi saya harus membantu mama menyiapkan makan sahur nanti. Pfef, kantuk saya juga sudah mulai datang sepertinya, ok, good night, and have a lovely dream.

0 Comments:
Post a Comment
<< Home