Thursday, September 21, 2006

-077. Rizky

Allah memberikan rizky kepada semua umatnya yang taat ataupun tidak taat secara adil. Iya secara adil, adil menurut Allah, Allah yang lebih tahu kita ketimbang kita sendiri kan. Kadang kala kita mengukur rizky Allah, dari materi yang kita dapat, tanpa sadar kalau sehat juga merupakan rizky yang malah menurut saya ngak terukur nilainya. Kala sehat makanan bisa terasa lezat & ni'matnya, tapi coba dikala kita sakit makan terlezat & mahal sekalipun ngak akan terasa se lezat & seni’mat dikala kita (benar-benar) sehat, bagus bisa makan, nah kalau karena alasan tertentu yang melarang kita memakan makanan tersebut??? See betapa mahalnya sehat, ketika sakit,banyak hal yang seharusnya bisa dilakukan menjadi tertunda. Ternyata sehat benar-benar suatu karunia yang besar yang wajib disyukuri.
Lepas dari situ, seringkali terbersit dalam benak saya dan melintas diotak saya ketika saya mendapat rezeky dalam bentuk materi yang berlebih, rezeki siapakah yang datang melalui saya? Pernah terpikir oleh saya, mungkin ibu2 tua pengemis yang setiap pagi dan sore mangkal di trotoar jalanan, dari gedung perkantoran dimana saya bekerja ke jalan raya. Tapi saya ragu, terlebih ketika teman saya yang lumayan sering bareng saya ini mengerutu sebal tentang peminta2 itu (gw benci banget noer, males banget sich mereka, kok bisa2nya setiap hari nongrong dan berharap belaskasihan orang2 yang lewat!). Saya terpana mendengarnya mengerutu, dia memang orang yang selalu (terlalu) berterus terang tentang apa yang ia rasakan, sementara saya sulit berkomentar hingga sekali lagi yang keluar adalah senyuman saja. Jelas saya sulit memberikan komentar, karena sejak hari pertama saya menginjakkan kaki saya beberapa tahun yang lalu di trotoar itu, dia sudah ada disana duduk dan menegadahkan tangan baik dalam kondisi gerimis ataupun panas sekalipun, Miris memang melihatnya, tapi bisa apa saya, saya tidak tahu persis kondisi kehidupan yang ia hadapi, tapi Alhamdulillah saya selalu diajarkan bahwa tangan diatas lebih baik daripada tangan dibawah. Untuk itu lah saya bekerja, bukan sekedar untuk saya saja, tapi juga untuk orang2 disekeliling saya yang mungkin rejekinya Allah titip lewat saya.
Lagi, terimakasih untuk mama, dan tentu saja Alhamdulillah, saya diajarkan bahwa segala yang saya dapat tidak kekal dan ada juga hak orang disana. Saya percaya Rizky saya tidak akan diambil orang, sebab Allah sudah mengaturnya. Yang harus saya lakukan adalah terus berusaha dan mempergunakannya dengan sebaikknya, sehingga berguna dan tidak mengundang kemarahan-Nya.

Dua hari lagi Ramadhan.... begitu cepat waktu berlalu, dan Ramadhan yang syahdu dan penuh cinta sudah di depan mata,
- MOHON MAAF LAHIR BATHIN -

Semoga amal ibadah di Ramadhan yang penuh Ampunan, Rahmat dan berkah, ini di terima oleh Allah. Amien.

-Marhaban ya Ramadhan-

0 Comments:

Post a Comment

<< Home