-031. Ulang Tahun
"Hi...." serempak saya, Mia, Nana dan Zy berteriak, cipika-cipiki say2 hello tanya kabar & kesibukan dimulai. Sudah lama memang kami ngak kumpul bareng, meski Ana dan Ponco ngak dateng toh tetep rame juga. wah duh penyakit lupa saya memang keterlaluan, saya lupa menyimpan no HP Ana yang baru. Saya meringis dalam hari, ketika mereka mulai membicarakan Ana maaf yach... saya hanya tersenyum dan mengeleng atau mengangguk, karena sebenarnya saya juga sedang bersitegang dengan diri saya sendiri, dasar pikun...
Sebenarnya saya, Zy dan Nana minggu lalu sudah ketemuan, cuma memang saat itu kapasitasnya membantu Nana yang lagi punya even, jualan hotel di radin dalam rangka konser tour asianya tiesto. Ya, jadi mang rada kurang santa, karena dia lagi pusing. Dan pertemuan kali ini pun tidak seperti biasa, karena niat Zy yang mau mengurangi ketergantungannya terhadap kafein, maka tempat pertemuan kami yang biasa disebuah restoran kopi pun bergeser kesampingnya, yang menampilkan pizza & sejumlah makanan itali sebagai menu utama.
Kali ini saya yang meminta maaf dalam hati pada mereka, karena selain janji ketemuan & kangen2an saya juga punya janji dengan Uni yang ingin mengambil novel Harper Lee yang saya beli kemarin, untuk mencxl janji saya dengan Uni, saya juga ngak tega, walau janji dengan Uni sebenarnya juga baru tercetus setelah jam makan siang melalui chat di G-talker. mereka semua mulai bercerita dengan heboh, sementara saya sembari memilih menu, melirik terus ke HP, kemana si Uni yach? saya mulai khawatir, karena Uni memang sering misdirection.
Setelah menunggu beberapa lama akhirnya Uni telephone dengan nada bingungnya seperti biasa, sehingga saya harus keluar & memastikan kalau dia benar2 tidak salah dan sudah sampai. Akhirnya, tapi manaenak situasi seperti ini, membiarkan Uni ngak nyaman juga ngak enak, akhirnya saya pamitan untuk pulang dan disambit eh disambut dengan protes ketiga perempuan yang duduk didepan saya, saya meringis minta maaf sembari memberikan uang untuk makanan saya, tapi serempak mereka berteriak " Mia kok yang traktir, jahat loe Mia kan Ultah...."
"Masa.... bohong.... dia kan may ah udah deh... ya udah bulan depan ketemuan lagi dech tapi harus lengkap sama Ponco, gw yang bayar dech untuk yang besok." saya menarik tas saya yang ditahan Nana. "pls..."
"Wah loe Ultah bulan depan?sik..." Nana melepas tas saya tapi Mia masih menahan buku Dan Brown saya.
"Mang harus Ultah yach baru makan2 mang apa pentingnya Ultah sich... eh sorry ya Mi... Ultah gw dah lewat tau, jangan buat malu ah, Ultah itu bagi gw cuma semacam allert untuk ngingetin kalau gw dah tambah tua, kalau gw masih blom jadi apa2 kalau gw...aug ah... Mi..pls..." Mia menyeringai sembari memberikan buku saya.
" Ultahnya dah lewat, dah tau jgn sewot donk." Zy menyeringai juga melihat saya yang sudah mulai sebal. "Dah Mi... biarin aja, tapi bener yach?" Saya menganguk dan berlalu bersama Uni.
Ulang Tahun, bagi saya merupakan titik dimana saya harus flashback dan membenahi diri untuk menjadi lebih baik. Pernah dulu saya lupa kan tapi pastinya dulu sekali, saya pernah menjadikan hari ultah saya untuk mengukur kepedulian orang terhadap saya, semakin banyak yang mengucapkan Happy Birthday atau selamat Ulang Tahun maka semakin banyak yang sayang pada saya. Sekarang ini saya justru merasa risih, entahlah mungkin karena pertambahan umur yang ingin saya hindari, tapi ngak bisa. Tapi ngak salah juga kelalukuan saya dimasa lalu, paling tidak semakin banyak yang memberi ucapan selamat, berarti bukannya banyak do'a untuk saya. Yach mungkin semakin saya tua sudut pandang saya terhadap satu hal akan bergeser.
Tapi setiap orang bisa berbeda2 dalam memaknai Ulang tahun mereka, tentunya selain menyadari kalau umur mereka bertambah. Saya jadi ingat pada seorang teman saya yang mengeluh tentang suaminya yang sudah lupa Ultahnya di usia pernikahan mereka yang baru memasuki tahun ke-2, padahal ketika mereka masih pacaran dulu dia tak pernah lupa, makan malam bersama kado cantik dan ucapan yang diselipi do'a. Mengingat raut wajahnya saat itu saya hanya dapat diam. Jadi ingat saya mungkin pernah tapi saya lupa, yang jelas teman2 saya yang ngamuk2 kalau saya bilang "Oh iya lupa kamu ultah yach Happy..." kan sudah sewajarnya karena saya memang pelupa, tapi teman saya langsung menuduh saya tidak perhatian, ngak sensitif, ngak ini & itu.... padahal kan ngak juga, duh jangan mukul rata semua orang donk... :P. temans kalau saya pakai kata lupa itu memang saya pelupa tapi bukan berarti saya bener2 ngak ingat kapan Ultah kalian, saya inget tapi mungkin pas kebeneran aja pas hari H saya lupa... maaf yach.... :P
Sebenarnya saya, Zy dan Nana minggu lalu sudah ketemuan, cuma memang saat itu kapasitasnya membantu Nana yang lagi punya even, jualan hotel di radin dalam rangka konser tour asianya tiesto. Ya, jadi mang rada kurang santa, karena dia lagi pusing. Dan pertemuan kali ini pun tidak seperti biasa, karena niat Zy yang mau mengurangi ketergantungannya terhadap kafein, maka tempat pertemuan kami yang biasa disebuah restoran kopi pun bergeser kesampingnya, yang menampilkan pizza & sejumlah makanan itali sebagai menu utama.
Kali ini saya yang meminta maaf dalam hati pada mereka, karena selain janji ketemuan & kangen2an saya juga punya janji dengan Uni yang ingin mengambil novel Harper Lee yang saya beli kemarin, untuk mencxl janji saya dengan Uni, saya juga ngak tega, walau janji dengan Uni sebenarnya juga baru tercetus setelah jam makan siang melalui chat di G-talker. mereka semua mulai bercerita dengan heboh, sementara saya sembari memilih menu, melirik terus ke HP, kemana si Uni yach? saya mulai khawatir, karena Uni memang sering misdirection.
Setelah menunggu beberapa lama akhirnya Uni telephone dengan nada bingungnya seperti biasa, sehingga saya harus keluar & memastikan kalau dia benar2 tidak salah dan sudah sampai. Akhirnya, tapi manaenak situasi seperti ini, membiarkan Uni ngak nyaman juga ngak enak, akhirnya saya pamitan untuk pulang dan disambit eh disambut dengan protes ketiga perempuan yang duduk didepan saya, saya meringis minta maaf sembari memberikan uang untuk makanan saya, tapi serempak mereka berteriak " Mia kok yang traktir, jahat loe Mia kan Ultah...."
"Masa.... bohong.... dia kan may ah udah deh... ya udah bulan depan ketemuan lagi dech tapi harus lengkap sama Ponco, gw yang bayar dech untuk yang besok." saya menarik tas saya yang ditahan Nana. "pls..."
"Wah loe Ultah bulan depan?sik..." Nana melepas tas saya tapi Mia masih menahan buku Dan Brown saya.
"Mang harus Ultah yach baru makan2 mang apa pentingnya Ultah sich... eh sorry ya Mi... Ultah gw dah lewat tau, jangan buat malu ah, Ultah itu bagi gw cuma semacam allert untuk ngingetin kalau gw dah tambah tua, kalau gw masih blom jadi apa2 kalau gw...aug ah... Mi..pls..." Mia menyeringai sembari memberikan buku saya.
" Ultahnya dah lewat, dah tau jgn sewot donk." Zy menyeringai juga melihat saya yang sudah mulai sebal. "Dah Mi... biarin aja, tapi bener yach?" Saya menganguk dan berlalu bersama Uni.
Ulang Tahun, bagi saya merupakan titik dimana saya harus flashback dan membenahi diri untuk menjadi lebih baik. Pernah dulu saya lupa kan tapi pastinya dulu sekali, saya pernah menjadikan hari ultah saya untuk mengukur kepedulian orang terhadap saya, semakin banyak yang mengucapkan Happy Birthday atau selamat Ulang Tahun maka semakin banyak yang sayang pada saya. Sekarang ini saya justru merasa risih, entahlah mungkin karena pertambahan umur yang ingin saya hindari, tapi ngak bisa. Tapi ngak salah juga kelalukuan saya dimasa lalu, paling tidak semakin banyak yang memberi ucapan selamat, berarti bukannya banyak do'a untuk saya. Yach mungkin semakin saya tua sudut pandang saya terhadap satu hal akan bergeser.
Tapi setiap orang bisa berbeda2 dalam memaknai Ulang tahun mereka, tentunya selain menyadari kalau umur mereka bertambah. Saya jadi ingat pada seorang teman saya yang mengeluh tentang suaminya yang sudah lupa Ultahnya di usia pernikahan mereka yang baru memasuki tahun ke-2, padahal ketika mereka masih pacaran dulu dia tak pernah lupa, makan malam bersama kado cantik dan ucapan yang diselipi do'a. Mengingat raut wajahnya saat itu saya hanya dapat diam. Jadi ingat saya mungkin pernah tapi saya lupa, yang jelas teman2 saya yang ngamuk2 kalau saya bilang "Oh iya lupa kamu ultah yach Happy..." kan sudah sewajarnya karena saya memang pelupa, tapi teman saya langsung menuduh saya tidak perhatian, ngak sensitif, ngak ini & itu.... padahal kan ngak juga, duh jangan mukul rata semua orang donk... :P. temans kalau saya pakai kata lupa itu memang saya pelupa tapi bukan berarti saya bener2 ngak ingat kapan Ultah kalian, saya inget tapi mungkin pas kebeneran aja pas hari H saya lupa... maaf yach.... :P

0 Comments:
Post a Comment
<< Home